Minggu, 04 Desember 2016

Bekerja Itu Belajar yang Dibayar (Profil Dirut Adira Finance)

Saya berfoto dengan Dirut Adira Finance Willy Suwandi di kantor pusat Adira Finance


Menekuni bisnis perusahaan pembiayaan bukan cita-cita awal Willy Suwandi Dharma (57 tahun). Direktur Utama Adira Finance tersebut memiliki latar belakang yang bertolak belakang dengan jabatan bisnisnya saat ini.

Namun, orang nomor satu di Adira tersebut memiliki prinsip tersendiri mengenai bekerja. Yaitu bahwa bekerja adalah belajar yang dibayar sehingga perbedaan latar belakang pendidikan dengan dunia pekerjaan justru membuatnya semakin terpacu untuk terus belajar.

Willy merupakan lulusan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor pada 1981. Ia kemudian melanjutkan kuliah dan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Terbuka, Jakarta, pada 1992.

Setelah memperoleh gelar sarjana pertanian, pria kelahiran 29 Agustus 1956 tersebut memiliki cita-cita menjadi peneliti pangan nonberas. Hal itu dilatarbelakangi rasa penasaran untuk menemukan makanan pokok pengganti beras untuk masyarakat Indonesia. Bahkan, Willy sempat merancang penelitian tersebut di Irian Jaya untuk meneliti sagu.

Namun, Willy justru dimintai tolong oleh temannya untuk membantu dalam bisnis pembiayaan. Awalnya, ia hanya ingin membantu sementara, tapi bekerja di bisnis pembiayaan justru malah membuatnya ketagihan.

Willy sempat berpindah-pindah di beberapa perusahaan pembiayaan dan ditempatkan di divisi yang berbeda-beda. Baru pada 2003, ia menjabat sebagai direktur utama PT Asuransi Adira Dinamika, kemudian diangkat menjadi Komisaris PT AsuransiAdira dan Dinamika Direktur Utama Adira pada 2012 sampai sekarang. Willy diangkat sebagai direktur utama Adira Finance pertama kali dalam RUPS Tahunan pada 7 Mei 2012.

"Kalau saya dikasih tambahan pekerjaan, berarti tambah pengetahuan. Jadi, saya tidak begitu takut untuk mendapatkan kesempatan atau oportinity atau challenge untuk memegang bidang yang di luar background saya," ujar Willy menjelaskan kepada Republika, Kamis (30/4).

Di sela-sela kesibukannya sebagai pengusaha dalam bisnis pembiayaan, Willy masih menyempatkan waktunya untuk mengikuti kegiatan sosial dan organisasi. Willy tercatat sebagai anggota dewan pembina di Perkumpulan Increso yang bergerak dalam bidang sosial, khususnya membantu pengobatan bagi masyarakat yang memerlukan bantuan. Willy juga tergabung dalam board of trustee di Yayasan Danamon Peduli serta menjabat sebagai ketua Yayasan Lions Indonesia.

Waktu berkumpul bersama keluarga biasanya dihabiskan untuk berwisata kuliner mencicipi aneka masakan unik di pinggir jalan. Akhir pekan juga sering dihabiskannya untuk berlibur ke Bandung bersama keluarga. 

Willy juga menyempatkan diri melatih fisik agar tetap bugar dengan bersepeda ataupun bermain badminton bersama kawan satu organisasi pada akhir pekan. Pria tersebut mengaku memiliki minat pada olahraga yang memacu adrenalin. Itu sebabnya, ia tidak terlalu menyukai permainan golf.

Bahkan, penyuka segala janis bakmi tersebut memiliki hobi naik gunung dan panjat tebing yang ditekuni sejak kuliah. Namun, hobi lama tersebut sudah jarang dilakoni mengingat usianya hampir berkepala enam. Willy mengaku melakukan pendakian di Gunung Gede melalui jalur Gunung Putri pada empat tahun lalu.

Dalam menjalankan bisnis, Willy menilai sosok pemimpin harus merangkul seluruh karyawan. Dia juga menilai pentingnya persamaan pemahaman di antara seluruh karyawan untuk mencapai target perusahaan.

Menurutnya, atasan dengan bawahan itu harus melakukan review yang rutin dan monitoring serta melakukan coaching dan konsuling. Hal itu untuk mengetahui apa yang diharapkan dan dibutuhkan karyawan di bawahnya serta memberikan tambahan pengetahuan.

"Pemimpin itu harus bisa menerima tantangan, menghadapi tantangan, dan harus selalu berpikir out of the box," papar dia.

(Tulisan ini pernah diterbitkan harian Republika, Mei 2015)

Senin, 26 September 2016

Menuntaskan Rindu di Ranukumbolo




Enam tahun berlalu, akhirnya aku dapat berjumpa lagi denganmu. Ranukumbolo. Tak banyak yang berubah. Airmu tetap jernih. Dingin malammu tetap menusuk. Embun pagimu selalu sukses membasahi rumput, ilalang, dan sabana. Termasuk tendaku. Hahaha

Film 5cm memang menjadi magnet kuat bagi para amatiran untuk datang menyapamu. Tanpa bekal yang mumpuni, mereka berduyun-duyun mendatangimu. Sekadar ingin memuaskan hasrat agar diakui di dunia maya. huff...

Bahkan, pernah dalam sehari ribuan orang menjejak tanahmu. Menyisakan 5 ton sampah. Miris. 

Namun, Taman Nasional bertindak tegas. Berkat syarat dan perizinan pendakian yang diperketat, rupamu tetap elok. Saat melihatmu kembali, aku tetap jatuh cinta. 



Yang cukup berbeda, sekarang ada tulisan "ANDA BERADA DI LOKASI RANUKUMBOLO (15 Ha)". Papan informasi ini otomatis menjadi spot berfoto para pendaki. 

Yang lebih keren, kini pendaki tak perlu repot mencari lokasi untuk "buang hajat". TNBTS telah menyediakan toilet yang berjajar di dua lokasi camping.

Ketegasan TNBTS yang saya maksud tadi, seperti kewajiban membawa surat keterangan sehat, adanya briefing sebelum pendakian, larangan menyalakan api unggun, dan kewajiban membawa turun sampah. Selain itu, kini pendaftaran pendakian Semeru bisa dilakukan secara online, dan pembayaran melalui transfer. 





Ini dia tim saya pada pendakian yang bertema "Camping Ceria" kali ini. Dari ujung ada Tery, saya, Indri, Irene, Vivi, dan Tita. Niat awalnya memang bukan menuju Mahameru, melainkan camping di Ranukumbolo. Jadilah kami berenam menikmati dingin dan sunyinya Ranukumbolo pada 17-19 September 2016. 

Kedua kalinya menapaki tanah dan rerumputan gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memang sedikit berbeda. Personel yang notabene cewek semua membuat perjalanan harus ekstra hati-hati. Alhamdulillah, perjalanan kami lanca dan semuanya senang. Ranupani - Ranukumbolo dapat kami tempuh selama 4,5 jam. Pulangnya, Ranukumbolo - Ranupani kami tempuh sekitar 3,5 - 4 jam perjalanan. Gokilnya, waktu perjalanan pulang kami menyantap semangka segar di Pos III dan Pos II. Tiap potongnya semangka ini dijual seharga Rp 2.500. Sangat murah untuk jajanan segar di tengah keringat yang bercucuran..Hahahaa



Bonus: perjalanan kali ini juga sekaligus nemenin sodara MFP 230810 si Tery Indriyani yg belum pernah ke Semeru. Orang lagi patah hati (udah lamaaa) dna barusan resign dari kerja memang butuh hiburan...Semangatttt !!!!

Senin, 08 Februari 2016

Dan 6 Penggemar Pisang Goreng

Foto dok Republika Online



Asmawi Syam telah berkiprah selama puluhan tahun di dunia perbankan. Pria kelahiran Ujungpandang tersebut telah berkiprah di BRI sejak 1980. Setelah diangkat sebagai direktur utama BRI, kesibukan pria ini semakin bertambah. Kini, ia justru mempunyai hobi baru, di luar hobinya berolahraga.

"Saya hobinya sudah beralih, biasanya suka travelling, kalau sekarang, hobinya kerja di kantor," ujar Asmawi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sebagai orang nomor satu di bank milik pemerintah ini, Asmawi kerap melakukan kerja lembur untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya. Namun, lulusan Magister Manajemen Universitas Padjadjaran ini tetap melatih fisiknya agar tetap bugar.

Di sela-sela kegiatan sebagai bankir, Asmawi masih menyempatkan diri melakukan aktivitas lain. Dia mengaku menggemari olahraga golf sejak menjadi bankir.

Sebelumnya, hobi olahraga Asmawi termasuk ekstrem. Sejak mahasiswa, dia mengikuti latihan karate dan kerap naik gunung. Saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar, ia telah mendaki beberapa gunung di Pulau Selebes tersebut. Terakhir, ia mendaki Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan.

Hobi karate tetap dijalaninya hingga kini. Asmawi telah meraih sabuk hitam dengan posisi Dan 6. Ia bukan lagi berlatih karate melainkan melatih karate sebulan dua kali di dojo-dojo sekitar Jakarta. "Soalnya kalau sudah Dan 6 terus tidak bisa gerak apa-apa kan malu juga," ucapnya.

Jabatan tinggi tak berarti seleranya selalu high class. Buktinya, Asmawi justru menggemari jajanan tradisional. Pisang goreng menjadi camilan favorit suami Ani Soemarmo tersebut. Terlebih pisang goreng yang dimasak istrinya. Jika tidak, ia kerap membeli pisang goreng di warung-warung pinggir jalan atau pisang goreng yang dijual di kantin kantor pusat BRI.

Sebelum dilantik menjadi Direktur Utama BRI, Asmawi sempat menjabat sebagai direktur BRI periode 2007-2014. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Bisnis Umum BRI periode 2005-2007.

NB: Tulisan ini pernah dimuat di Harian Republika edisi 1 Februari 2016. 

Sabtu, 06 Februari 2016

Dari Baca Republika Sampai Sop Kaki Kambing



Saya berfoto bersama Gubernur BI Agus
Martowardojo saat berkunjung ke kantor Republika

Pagi hari menjadi waktu yang tepat untuk menyelami berbagai informasi. Seperti yang dilakukan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo yang mengaku berlangganan Republika dan membacanya setiap pagi. Pria kelahiran Amsterdam, Belanda, pada 24 Januari 1956 tersebut mengaku belum bangun tidur jika belum membaca Republika.

"Saya terus mengikuti Republika. Republika adalah salah satu media yang saya merasa belum bangun tidur kalau saya belum baca Republika, jadi saya sudah lama sekali menjadi pelanggan," ucapnya saat mengunjungi kantor Republika di Jl Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Agus bergurau, jika bangun tidur ia membaca koran, anaknya justru memegang ponsel cerdas untuk membaca berita online. Dalam kunjungan itu, mantan menteri keuangan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut mengungkapkan apresiasi kepada Republika yang sudah terbit sejak 1993 dan sudah melalui berbagai tantangan.

Menurut dia, tantangan yang dihadapi tidak sedikit, termasuk tantangan perekonomian. Sebab, sudah ada beberapa media cetak yang sudah tidak bisa terbit. Republika pun diminta menjaga integritas dan tidak tergoda dengan popularitas.

Di sela-sela kesibukannya, ternyata suami dari Nies Berliantin tersebut menggemari sop kaki kambing. Dia mengaku kerap mampir ke warung sop kaki kambing di bilangan Roxy, Jakarta Pusat. Kegemaran Agus pada sop kaki kambing juga diaplikasikan saat ada acara khusus di Bank Indonesia. Hidangan yang disediakan tak luput dari sop kaki kambing. Selain itu, Agus yang menjadi Gubernur Bank Indonesia sejak 23 Mei 2013 ini juga menggemari berbagai makanan tradisional Indonesia, seperti nasi liwet ataupun gudeg khas Yogyakarta.

Agus merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1984. Dia juga memperluas wawasan dengan mengikuti program di State University of New York, Harvard Business School, Standford University, dan Wharthon Executive Education.

Perjalanan karier bapak dua anak tersebut diawali di dunia perbankan. Mulai di Bank of America, kemudian di Bank Niaga pada 1986.

Agus juga pernah menjadi managing director Bank Mandiri pada 1999-2002. Pada Oktober 2002, dia ditugaskan menjadi direktur utama PT Bank Permata Tbk, dan sejak Mei 2005 sampai Mei 2010 menjadi direktur utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.


NB : Tulisan ini pernah dimuat di Harian Republika, 23 November 2015. Agus Martowardojo merupakan salah satu narasumber favorit saya. Tutur katanya halus namun tegas. Ia juga dekat dengan para wartawan. 

Jumat, 05 Februari 2016

Jangan Salahkan Lidah Saya


Nasi lauk kepiting cabai ijo ini saya beli waktu
berkunjung ke Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu 

Perbincangan anak rantau tak pernah lepas dari persoalan makanan. Bagaimana tidak, jauh dari kampung halaman yang biasa menyuguhkan makanan sesuai lidah bisa menyulitkan beberapa orang tertentu. Termasuk saya.
Pertama kali merantau ke Jakarta pada Mei 2014 lalu, saya sempat didera penyakit 'tidak nafsu makan' selama beberapa bulan. Mungkin bagi warga Jakarta sudah biasa makan di tempat berjudul Warung Padang atau Warung Tegal maupun Warung Sunda. Bagi saya yang biasa jajan di warung kampung tentulah tidak biasa.
Beragam warung sudah saya jajaki. Mulai dari tiga warung di atas, ditambah warung bakso dan mie ayam, warung capcay dan kwetiaw, warung ayam penyet hingga restoran di mal yang harganya cukup menguras kantong.
Alhasil, warung ibu-ibu Sunda dekat kosan saya di bilangan Pejaten menjadi pelabuhan saya selama beberapa waktu. Menu ayam goreng, tumis cumi dan ikan kembung menjadi andalan saya. Ditambah sambal yang pedasnya sesuai dengan lidah saya.
Namun, tak lama saya segera berpindah ke Warung Tegal samping gang kosan. Menu andalan saya hampir sama. Mungkin lidah saya sudah kemicinan sehingga makanan yang dianggap teman saya enak, bahkan terasa hambar di lidah saya.
Sampai suatu hari saya dipindahtugaskan ke Surabaya, tepatnya 20 Januari 2016. Saya harus berusaha menelusuri warung-warung yang masakannya sesuai lidah saya. Dalam dua pekan ini, saya baru menjajal warung di sekitar kantor saya di bilangan Jl Ketintang Baru I No 14H. Ada warung Padang, mie ayam, pecel Madiun, sampai bebek goreng. Lidah saya sepertinya lebih bisa menerima masakan warung di Surabaya ketimbang di Jakarta. Mungkin ada kawan-kawan yang senasip dengan saya.
Sejauh ini, yang paling berkesan menu belut goreng di Warung Belut Khas Surabaya di daerah Ngagel. Untung saya ketemu rekan dari koran tetangga yang mengajak saya kulineran di Surabaya.
Saya masih mengira lidah saya aneh, sampai seorang teman berkata, "Hal yang paling tidak berguna itu memperdebatkan soal selera". Kata-katanya tidak ada yang salah.
Memang lidah masing-masing orang berbeda. Ada teman saya satunya, segala macam makanan dilahap. Bagi dia, tidak ada makanan yang tidak enak. Saya salut dengan orang-orang seperti itu. Bagaimanapun, saya tetap mencoba agar lidah saya terbiasa dengan masakan di Surabaya.
Oke, aya sudah lapar, mari berburu kuliner di Surabaya.

Sabtu, 23 Mei 2015

Pendakian Kartini ke Papandayan


Lama ga nulis di blog, tangan jadi gatel nih hahaa.. Saya mau cerita, jadi kemarin itu tanggal 9-10 mei 2015 saya sama teman-teman cewek-cewek naik ke Papandayan. Awalnya saya cuma ngajak beberapa teman, tapi ternyata yang lain pada antusias. Peserta pendakian kartini kali ini adalah empat anak Republika yakni saya, risa, sonia dan kristi, serta dua anak Media Indonesia yakni iren dan indri. Kami sepakat bertemu di tempat pull bus Primajasa di Cililitan pada Sabtu (9/5). Harga tiket Primajasa per anak dibanderol Rp 52 ribu sampai terminal Garut.
Kami berangkat pukul 12.00 WIB dari Jakarta. Sampai di terminal Guntur Kabupaten Garut pukul 16.30 WIB, kami segera mencari masjid terdekat untuk istirahat dan sholat. Setelah itu, kami mencari warung makan untuk mengisi perut. Yang bikil bete, di sekitar terminal itu sulitnya bukan main nyari ATM, kami hars berjalan sekitar 1 km lebih untuk menemukan mesin ATM di bekalang pasar dekat terminal.
Ba'da magrib kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot sejenis L-300 sampai di pertigaan menjelang pos pendakian. Setiap anak dibanderol Rp 15 ribu untuk satu jam perjalanan. Itu pun melalui tawar menawar dengan sang sopir. Ternyata setelah itu kami menemui hal yang lebih menyebalkan. Untuk naik ke pos pendakian kami harus memilih naik ojek atau mobil bak terbuka. Sejumlah sopir dua moda transportasi itu seperti saling berebut penumpang dengan menawarkan harga tinggi kepada kami. Akhirnya kami sepakat membayar Rp 150 ribu untuk menyewa mobil bak terbuka setelah perdebatan panjang dengan para sopir.
Di tengah jalan kami melewati pos penjagaan untuk registrasi. kami membayar Rp 45 ribu untuk satu tim. Perjalanan sekitar setengah jam, kami sampai di pos induk pada pukul 20.00 WIB. Langit yang awalnya mendung mulai menampakkan bintang nan gemerlap. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke tempat camp di Pondok Saladah. Perjalanan dari pos induk ke pos kawah memakan waktu satu jam. Untungnya kami bertemu dua penduduk setempat yang juga naik ke pos kawah. Ternyata mereka memiliki warung di pos tersebut. Perjalanan kami diwarnai dengan bau belerang yang cukup menyengat sehingga membuat beberapa teman saya terbatuk-batuk dan sulit bernapas. Maklumlah, saya membawa rombongan pendaki pemula, dan  kami semua belum pernah naik ke Papandayan. Namun, hamparan langit yang penuh dengan bintang melenyapkan rasa lelah dan memunculkan semangat baru bagi kami.
Setelah istirahat sejenak di pos kawah, kami bertemu empat pendaki lain yang akan melanjutkan perjalanan ke Pondok Saladah. Kami mengikuti mereka dari belakang agar tidak tersesat. Nyatanya karena kecepatan kami berbeda, kami tertinggal cukup jauh dan harus mencari-cari jalan dari cahaya senter yang semakin redup. Kami sempat melewati sungai yang cukup terjal, padahal jalur asli tak jauh dari situ. Setelah itu, kami melewati tanjakan yang cukup ekstrim dan harus istirahat beberapa kal untuk mengatur napas. Selanjutnya, jalur datar dengan bebatuan yang sedikit berserakan menyapa perjalanan kami. Untuk melepas penat, kami sempatkan bercanda dan bernyanyi lagu-lagu masa kecil. Akhirnya pukul 22.30 kami sampai di pos 2 di bawah Pondok Saladah. Kami registrasi sejenak dan mengatur napas, kemudian melanjutkan perjalanan ke camp Pondok Saladah.
Tiba di Pondok Saladah pada pukul 23.00 WIB, lokasi camp sudah penuh dengan puluhan tenda. Kami segera mencari lokasi yang pas untuk mendirikan tenda. Kemudian, kami memasang dua tenda dan dua buah flysheet. Kami segera memasak air dan mie instan untuk mengganjal perut. Teman-teman saya yang merasa kedinginan langsung mengenakan jaket dan berlindung di balik sleeping bag. Tak lama, kami sudah terlelap memeluk dinginnya angin Papandayan.
Paginya, kami terbangun karena suasana di luar tenda sudah cukup ramai meskipun matahari belum menampakkan sinarnya. Segera saja kami mengantre tiolet yang berada tak jauh dari camp kami. Sialnya, antrean toilet sangat panjang dan lebih dari sejam saya dan teman-teman menghabiskan waktu untuk mengantre.
Sekembalinya ke tenda, aku langsung melakukan ritual pagi saat di gunung yakni memasak air dan roti bakar. Jadilah roti bakar buatanku..




Kami segera sarapan dan merobohkan tenda lalu packing. Melihat track yang begitu menanjak, saya mengusulkan agar carrier dititipkan di warung, mengingat teman-teman saya pendaki pemula. Akhirnya kami sepakat menitipkan carrier ke warung dan membawa perbelakan secukupnya untuk menuju Tegal Alun. Kami melewati padang edelwies yang cukup bagus, namun edelweis belum musim berbunga. Kami menyempatkan foto-foto sejenak. 


Kami melanjutkan perjalanan yang cukup menanjak. Kami bergelantungan di akar-akar pohon untuk menghindari terpeleset tanah yang licin. Setelah satu jam perjalanan dengan vegetasi yang sama di kanan kiri yakni pohon cantigi, kami tiba di puncak bukit. Pemandangan camp dan hutan mati cukup menyita perhatian untuk melepas penat dan rasa lelah. 




Setelah puas berfoto, kami berencana melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun. Namun, melihat jam sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, kami bergegas turun. Kami menapaki jalur yang sama saat naik tadi. Jalur yang cukup licin dan curam membuat kami harus lebih berhati-hati dan berpegangan pada akar-akar pohon, Sejam kemudian kami sudah sampai lagi di camp Pondok Saladah. Kami merebahkan diri sejenak dan menjajal aneka jajanan yang dijual oleh pedagang di sana. Jangan salah, di sana banyak jajanan yag wajib dicoba, seperti cilok, seblak, gorengan, dan makanan kecil lainnya. Selang berapa lama kami melanjutkan perjalanan turun agar tidak kemalaman sampai ke Jakarta. Kami menyempatkan berfoto di tengah-tengah camp Pondok Saladah. 


Sosok di foto dari kiri ke kanan yakni Indri dan Iren, keduanya anak Media Indonesia. Kemudian saya, Sonia, Risa, dan Kristi yang semuanya anak Republika. Meskipun rata-rata yang ikut naik gunung adalah pendaki pemula, tapi saya salut pada semangat teman-temanku yang pantang mengeluh. Ada satu hal yang membuat kami agak dongkol dan prihatin terhadap kondisi Papandayan. Saat perjalanan turun, kami berpapasan dengan sejumlah warga yang naik ke Pondok Saladah dengan mengendarai motor trail. Menurut saya, tindakan itu mencemari lingkungan pegunungan. Namanya orang ke gunung buat menghirup udara segar dan mencari ketenangan, eh malah diberisiki suara motor dan asap karbondioksida. Saya pikir hal itu harus diperhatikan pemerintah. Sebab, membuka daerah wisata tidak harus dengan mencemari lingkungan. 
Di perjalanan turun, kami takjub melihat pemandangan alam yang tadi malam tertutup gelap. Ternyata di sekeliling kami terlihat barisan bukit-bukit dan kepulan asap dari kawah Papandayan. 




Sekitar pukul 14.00 kami sampai di kawah Papandayan. Kami melihat lebih banyak pengendara motor trail yang mencoba naik sampai ke kawah, dan segerombolan lainnya telah sampai di atas kawah, Kami menyapa penduduk setempat sang penjaga warung yang semalam menemani perjalanan kami sampai ke kawah, Kemudian kami melanjutkan turun melewati pinggir kawah dengan bau belerang yang menyengat. Kami bertemu dengan banyak wisatawan yang sekedar berwisata ke kawah.




Menjelang pukul 15.00 WIB kami sampai di pos induk dan segera mencari rombongan lain yang mau diajak menyewa mobil bak terbuka. Setelah bertemu rombongan pendaki asal Karawang, kami segera menawar harga sewa mobil baik terbuka sampai ujung pertigaan. Akhirnya disepakati harga Rp 200 ribu untuk 13 orang. Sampai di pertigaan, kami mengisi perut di warung mie ayam. Kemudian mencari angkot menuju Terminal Garut. Kami mendapat angkot setelah perselisihan panjang dengan sang sopir yang mau dibayar duluan baru angkot jalan. Kami membayar Rp 20 ribu per orang. Sampai di Terminal Guntur Garut jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Kami istirahat dan sholat di masjid terdekat. Akhirnya kami menaiki bus Primajasa dan turun di Pasar Rebo menjelang pukul 23.00 WIB. Alhamdulillah, perjalanan kami selamat sampai tujuan. 

NB: Tips pendakian ke Papandayan, usahakan membawa kendaraan pribadi agar tidak dipalak sopir angkot dan tukang ojek. Jika terpaksa naik angkutan umum usahakan pintar menawar harga dari sopir angkot dan tukang ojek. Selamat mendaki.. 

Minggu, 09 Februari 2014

Masjid An-Nur Pare Kediri


masjid Annur Pare Kediri bersama teman2 The Island Course... masjid ini cukup menarik sebab arsitekturnya yang unik, ada beberapa menara kecil di sekeliling masjid ini.. atap masjid juga cukup unik tidak seperti atap masjid yang berbentuk kubah.. di depan masjid terdapat kolam yang cukup luas dan halaman masjid cukup luas pula.. masjid ini terletak di tengah pusat kota Pare, di samping barat masjid ini terdapat area bermain yakni taman Kilisuci..